Author : Herman Attaqi
Apa kabar, kawan? Aku menulis artikel ini dalam suasana sore hari nan santay, serta ditingkahi rintik gerimis manja melankolik. Secangkir kopi, seperti biasa, menemani sore yang jika tak ada aral melintang nanti malam umat muslim akan menunaikan ibadah sholat tarawih malam pertama sebagai ritual khas selama malam-malam bulan Ramadan.
Aku mengenang Ramadan sebagai bulan suka cita. Ingatan masa kanak-kanak yang riang gembira. Main petasan, lilin, kembang api dan tentu saja, sholat tarawih beserta catatan amaliyah ramadan. Baru kusadari ternyata masa lalu masih memiliki hal baik untuk dikenang. Ga mestinya aku selalu mengingatimu yang telah hilang dalam genang kenangan. Kau yang sudah bahagia, sementara aku yang masih saja terperangkap sia-sia dalam balutan senyummu yang aduhai itu. Tuh kan malah curhat 😢
Anyway, puasa adalah sebentuk ingatan tentang kegembiraan. Sebagai mana seharusnya beragama adalah juga sebuah prosesi kegembiraan. Bukankah agama adalah kasih sayang (rahmat)? Setidaknya ini menurut pengalamanku, kawan. Semoga kau pun begitu. Hingga wajarlah sekiranya momen puasa d̶i̶s̶a̶m̶b̶i̶t̶ disambut dengan riang gembira. Tentu saja secara spiritual kita bergembira karena ini adalah bulan pengampunan, kasih sayang dan penyucian diri. Tapi, jangan salah, gembira juga selayaknya diberi makna pada unsur jasadiyah, yakni gembira dalam wujud fisiknya. Seperti kanak-kanak itulah.
Disamping puasa sebagai momen kegembiraan, ada lagi yang mengatakan bahwa puasa tak seharusnya membuat kita bermalas-malasan. Puasa tak boleh jadi alasan kita untuk berhenti berkegiatan.
Tapi, menurutku justru puasa memang seharusnya dijadikan momentum kita mengambil jeda dari kegiatan yang menguras banyak energi. Puasa harusnya jadi momen kita lebih santay, selow. Bahkan para ulama fikih aja membolehkan orang-orang yang bekerja dengan mengharuskannya mengeluarkan tenaga yang besar untuk tidak berpuasa. Kalo tidak salah istilahnya adalah uzur syar’i.
Kenapa kita harus jeda? Tentu kita harus mengambil jeda, bung. Tak baik kita memaksakan sesuatu atas fisik kita ini sepanjang tahun, sepanjang waktu. Mesin juga demikian. Mengambil jeda adalah memperpanjang usia mesin. Sesuatu yang dipaksa tak baik untuk jangka waktu yang lama. Apa pun lah itu.
Mengambil jeda dalam kehidupan juga bermakna mengambil masa untuk sejenak berkontemplasi. Mengisi ruang pikiran dengan mengevaluasi perjalanan hidup. Mengisi ruang hati dengan nutrisi spiritual yang menenangkan. Gelombang otak kita ga bole dipaksa untuk mendengarkan musik heavy metal berkepanjangan. Sekali-kali cobalah dengarkan dinamika irama jazz, atau dangdut koplo yang asoy mlehoy. Ajib banget dah.
Begitulah, kawan. Kita butuh jeda sekali waktu. Momen puasa bisa jadi sebagai saat yang tepat untuk itu. Puasa sebagai sebuah ‘pause’ dalam rentak hidup yang akhir-akhir ini mungkin terdengar bising dan hippie.
Sebenarnya tubuh orang yang berpuasa itu memang pasti secara fisik lebih lemah dibanding saat tidak berpuasa. Tentu saja, karena asupan makanan dan minuman yang berkurang dari biasanya. Tubuh otomatis merespon dengan melakukan gerak yang melambat. Lebih santay dan selow.
Aku pikir semua hal itu adalah hal yang wajar saja. Sebagai sebuah kondite objektif tubuh yang bereaksi atas apa yang terjadi dalam dirinya. Betapa pun para motivator sekelas Mario Teguh memberikan ilusi tentang semangat, semangat, dan semangka, tetap aja tubuh ga bisa bohong. Apa boleh bikin?
Kawan, sebenarnya gerak tubuh yang melambat atau kapasitas tubuh yang melemah itu ga perlu disikapi dengan respon yang seolah-olah hal itu sebagai sebuah kesalahan. Biasa sajalah. Biarkan saja tubuhmu menderita kepayahan menunggu datangnya harapan, yakni azan sholat magrib. Bukankah menanti dalam penderitaan adalah sebuah penantian yang romantis? Yaelah.
Ah, tiba-tiba aku mengenangmu yang sudah pergi entah kemana. Mengenangmu saja dalam kesepian adalah sebuah penderitaan rindu yang tak terperi. Untung puasa mengajarkanku bahwa menanti adalah jalan salik bagi orang-orang yang mensucikan diri. Berbukanya orang yang berpuasa, kata nabi, akan memperoleh dua kebahagiaan; gembira karena datangnya waktu berbuka dan lapang hati karena pahala yang disediakan bagi orang yang berpuasa.
Lah? Aku dapat apa dalam masa penantian yang ga berkesudahan ini? Apa sebaiknya kulupakan sajalah kau, Dik? Entahlah.
Selamat menjalankan ibadah puasa, kawan. Berpuasalah dengan riang gembira dan yang pasti, tetaplah santay, selow. ☕😋

