kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Wawancara Bersama Bang Erick

Sejauh ini masih bisa dihitung jari orang di Riau ini yang mengambil gelar Master dan memiliki kepakaran serta kualifikasi ilmu di bidang Energi Baru Terbarukan, nanti kita singkat menjadi EBT, salah satunya adalah Harisman, MSc. atau yang lebih akrab disapa Bang Erick.

Menurut Bang Erick, ketika ditanyakan mengenai urgensinya bicara EBT ini, adalah karena kita saat ini sudah masuk ke fase krisis energi yang ditandai dengan harga energi yang gila-gilaan, sangat memberatkan. Lima tahun lagi akan terasa makin parah.

Dengan kondisi seperti itu, EBT hendaknya menjadi prioritas pengkajian dan penerapan bagi pemangku kepentingan. Alasan lingkungan dan ketersedian potensi serta material yang melimpah, rasanya sudah lebih dari cukup bagi kita semua untuk dijadikan sandaran pemikiran, lanjutnya.

Bang Erick mengatakan bahwa semua potensi sumber daya EBT di Riau ini sangat layak, kecuali energi angin. Kalaupun ada, potensi energi angin ada di Rupat. Untuk potensi batu bara memang ada, tapi saya tidak rekomendasikan karena resiko terkait dampak lingkungannya sangat tinggi.

Mari kita simak bagaimana visi, pemikiran sekaligus juga kegelisahan Bang Erick, alumni Jurusan Teknologi Energi, Konsentrasi Energi Terbarukan di Fakultas Sain dan Teknologi Universiti Kebangsaan Malaysia tamat tahun 2005 ini.

Berikut adalah wawancara Herman Attaqi bersama Harisman, M.Sc a.k.a Bang Erick;

Apa kabar Bang Erick? Saya panggil Abang saja biar lebih akrab ya?

Alhamdulillah, baik. Suai.

Boleh tau thesis S2 Abang tentang apa?

Rancang bangun Fotovoltaic 1×1 cm sebagai sensor intensitas energi matahari.

Bisa dijelaskan sedikit?

Kajian Tugas Akhir kita menyimpulkan bahwa Wafer Photovoltaic ukuran 1 cm2 dapat dijadikan untuk alat data logger (pencatat data) intensitas energi matahari. Pencatatan energi matahari ini dapat dilakukan kontinyu sampai satu tahun oleh komputer. Sehingga potensi energi matahari suatu tempat dapat ditentukan.

Saya kira Wafer Photovoltaic bukanlah sejenis makanan.

Bahan yang dipasang menjadi Solar Cell itu terdiri dari kepingan tipis. Nah, kepingan tipis itu lah yang dimaksud Wafer Photovoltaic.

Lagi sibuk apa sekarang Bang? Atau lagi mengerjakan proyek apa?

Proyek pemerintah tidak ada. Hanya kegiatan biasa.

Apakah kegiatan biasa itu?

Sejak tahun 2015, Proyek Perawatan PLTMH yang ada di Kabupaten Kampar dipercayakan kepada saya. Sampai sekarang semua yang kita kerjakan tetap beroperasi dan listrik bisa dinikmati masyarakat. Rekomendasi teknis perawatan dan perbaikan dengan petugas/teknisi di lapangan biasa kita lakukan by phone, kecuali jika mereka tidak bisa mengatasinya, ya, saya turun.

Jadi yang saya maksud kegiatan biasa itu bersifat permintaan swadaya masyarakat, khususnya bidang EBT. Soal Pembangkit dari air, semua stake holder di Kampar terhubung dengan kita jika ada kerusakan. Kalau untuk pembangkit energi matahari baru dua desa ditangani, yakni Desa Dua Sepakat dan Desa Terusan.

Itu proyek dari swadaya masyarakat?

Ya. Proyek perawatan pemerintah mestinya ada di anggaran ESDM provinsi, karena sejak 2015 pemerintah kabupaten tidak lagi memiliki Dinas ESDM.

Bagaimana Abang melihat kesungguhan pemerintah, pusat maupun daerah, terhadap pengembangan EBT, terutama di Kampar? Dan potensinya sendiri seperti apa sebagai sumber energi alternatif?

Kalau pusat bergantung usulan daerah jika FS DED sudah siap. Tahun 2015 FS DED Desa Tanjung Permai dan Desa Sei Sarik saya buat dan alhamdulillah disetujui dengan anggaran pusat. Dulu itu bisa sukses karena ada koordinasi yang baik antara pemkab, pemprov dan pusat. Tapi sejak ESDM kabupaten tak ada, sepertinya ada kelemahan koordinasi antara kabupaten dengan provinsi. Hal ini dapat kita lihat seperti anggaran program untuk Desa Deras Tajak yang dua kali gagal, padahal sudah masuk RUP, dengan alasan rasionalisasi. Kegiatan di Desa Kebun Tinggi gagal karena putus kontrak dengan pihak ketiga, analisis saya karena harga OE turbin tak masuk. Potensi air tiap desa masih banyak, namun Kades dan pemangku kepentingan harusnya proaktif. Saya kira yang membidangi EBT di Riau ini sebaiknya orang yang paham dengan potensi energi dan sumber daya mineral yang ada di Kampar, karena Kabupaten Kampar punya potensi terbanyak dibanding Kabupaten lain di Riau.

Berarti peran strategisnya sekarang ada pada kewenangan yang dimiliki Gubernur?

Ya. Karena tadi itu Dinas ESDM kabupaten tutup sejak tahun 2015, tentu kewenangan, kebijakan bahkan pemeliharaan aset diambil alih provinsi. Sebab itu bukan hibah, tapi belanja modal. Sedangkan desa hanya punya kewenangan hak pakai dan pemeliharaan minor saja.

Saya ingin sedikit mengarah ke pembahasan yang lebih teknis. Bagaimana Abang menjelaskan secara ringkas teknis pengembangan EBT dengan potensi yang ada di Kampar?

Saya kira ESDM provinsi sudah mengantongi data FS semua potensi air di Kampar. Sementara, setahu saya, jika tidak ada potensi air maka kita bisa mengajukan PLTS Terpusat/Komunal dengan catatan dalam kurun lima tahun ke depan PLN belum menyanggupi pemasangan jaringan. Desa yang semula PLTMH sekarang sudah PLN, sepengetahuan saya, adalah Desa Muara Selaya dan Desa Koto Lamo.

Apakah potensi air kita memenuhi syarat untuk mengatasi kekurangan kebutuhan energi kita?

Apakah “energi kita” ini kebutuhan warga desa atau interkoneksi?

Saya kira interkoneksi.

Potensi air kita hanya cukup untuk warga desa saja. Hitungan saya, energi terbesar dari semua pembangkit EBT di Kampar adalah Desa Batu Sanggan dari PLTMH terbesar dapat menyuplai minimal 2 kWh/rumah/hari dan yang terkecil ada yg hanya mampu suplai energi maksimal 1 kWh/rumah/hari. Sementara desa yg punya PLTS rata-rata 350Wh/rumah/hari

Artinya, jika kita melakukan mapping secara akurat per desa, terutama yang masih kekurangan pasokan energi listrik, kita sebenarnya bisa menyelesaikan problem ini?

Problem terbesarnya justru saya lihat bukan soal data, tapi karena status hutan lindung salah satunya. Kalaupun ingin dipasok PLN, saran saya jaringan TM bawah tanah saja sepanjang jalan interpretasi yang diwacanakan alm. Aziz Zainal dan sudah disetujui Menteri Kehutanan. Soal jaringan tegangan menengah bawah tanah ini dapat disambungkan sinkronisasi dengan potensi air yg skala lebih besar dengan yang kecil. Misalnya potensi air terbesar yang saya lihat di Desa Dua Sepakat, menurut perkiraan saya dapat memasok kebutuhan energi untuk tiga desa. Tidak mungkin bisa karena jaringan listrik hanya bisa komunal, kecuali kalau ada jaringan tegangan menengah seperti saran saya di atas tentu bisa sinkronisasi banyak pembangkit.

Kabarnya Abang pernah membangun turbin di daerah kampar kiri ya? Apa benar?

Bangun baru belum pernah. Namun rehabilitasi/rekondisi memang benar. Prinsip kita adalah transfer of knowledge (ilmu) untuk teknisi di desa agar sustainable. Namun kerusakan yang tidak bisa mereka tangani, barulah saya turun. Untuk PLTS yang saya tangani perbaikannya baru di dua desa. Tapi utk PLTMH hampir semua, kecuali Desa Koto Lamo.

Peraturan kita sendiri bagaimana? Apakah tidak ada kemungkinan membuka peluang pihak swasta terlibat dalam investasi kelistrikan? Karena saya kira ini tentu membutuhkan anggaran yang besar baik pembangunan maupun pemeliharaannya.

Terkait regulasi setahu saya siapa saja boleh mengembangkan potensi EBT. Malah PLN wajib beli jika ada pihak yang menjual EBT. Regulasi detailnya diatur kementerian ESDM.

Jadi sebenarnya besar sekali peluang untuk pengembangan EBT ini?

Peluang tentu sangat besar. Misalnya sampah sebagai energi bio massa. Sampah dari Pekanbaru dan Tambang saja prediksi saya bisa memasok energi kapasitas mega watt. Namun perlu kajian yang komprehensif. Potensi lain yang visible adalah turbin terapung aliran sungai di Kampar Kiri Hulu, jika sinkronisasi dengan turbin kecil-kecil tapi banyak, itu bisa dapat energi yang banyak. Rencananya ini akan menjadi penelitian saya jika ambil S3 kelak.

Semoga rencana studi S3-nya bisa terealisasi sesegera mungkin.

Amin.

Tadi sempat disinggung tentang Bio Massa, bagaimana potensinya? Misalnya dari biji karet atau limbah batang sawit, mengingat juga ada ribuan hektar lahan replanting yang pastinya akan menimbulkan masalah baru jika tidak dimanfaatkan. Bagaimana Abang melihat masa depan pengembangan hal ini?

Bio massa sangat potensial untuk di Riau. Tapi saya belum dengar ada kajian tentang potensi ini.

Selain bidang EBT ini, apa kegiatan lain yang Abang geluti? Apa masih berhubungan dengan dunia teknik atau dunia klenik barangkali?

Sekarang ini masih menata ekonomi keluarga. Wirausaha yang sedang kita jalani seperti pesanan Mesin Tetas Otomatis, pengabut buat kelembaban kandang walet otomatis, kadang ada juga perbaikan mesin kelistrikan, cathodic protection, heater, dan lain-lain untuk perusahaan minyak seperti BOB/BSP.

Sudah saya duga pasti takkan jauh dari dunia teknik. Tapi saya justru melihat aktifitas dan konsep ini juga bisa dikembangkan lebih massif buat pengembangan teknologi sederhana, murah dan ramah lingkungan di UMKM.

Ide saya sudah ada beberapa, tapi masih minim support hingga tidak terlaksana. Sebagai contoh, saya pernah wacanakan ke pendamping kecamatan dan pendamping desa untuk sekitar 12 desa di Kampar yang belum ada sinyal GSM. Dan untuk hal ini saya bahkan sudah melakukan riset mandiri menggunakan biaya dari kantong sendiri.

Akhirnya berhasil dengan meletakkan Komputer Mikro Rasberry di puncak bukit dengan OS Linux bisa mengirim tombol dan suara ke desa melalui Radio Grid Wifi. Sementara simcard ada di modem via port USB Rasberry. Telepon di desanya adalah VoIP.

Berarti penggunaan terbatas? Apakah budgetnya besar?

Dengan komunikasi Radio Grid System point-to-point, RAB termasuk pajak sekitar 60 juta dengan sumber energi solar panel.

Sebenarnya 60 juta untuk back-up-an anggaran pemerintah itu proyek cincai lah ya?

Ini masuk kategori infrastruktur prioritas dalam penggunaan dana desa. Apalagi dana desa sudah besar. Tidak mungkin juga dibangun oleh provider, kecuali syarat ekonomis terpenuhi. Cara lain dulu pernah ada kegiatan pemerintah pusat melalui Kemenkominfo zaman Pak Tifatul Sembiring sebagai mentri, dengan model telepon VoIP data satelit V-Sat. Hanya bisa dipakai satu tahun karena biaya data satelit hanya include dalam kontrak pihak ketiga selama setahun.

Saya ada pertanyaan lain yang berkenaan dengan geliat pariwisata di Kampar yang hampir seluruh obyek wisata itu adalah wisata alam. Problemnya kemudian adalah jika menggunakan listrik negara tentu akan memakan budget yang sangat besar, apalagi jika hanya bergantung pada mesin genset, tentu jauh lebih besar lagi. Adakah peluang mereka menciptakan sumber energi dari potensi air umpamanya, karena rata-rata obyek wisata kita itu berada di air?

Air visible apabila ada ketinggian (head) minimal 4 meter. Idealnya lebih dari 7 meter. Ketinggian dan debit air menentukan kapasitas energi yang dapat dibangkitkan.

Artinya perlu kajian lebih lanjut?

Sebelum dibangun harus FS dulu, sudah itu baru DED.

Apa kira-kira harapan Abang untuk pengembangan energi alternatif ini ke depan?

Dengan semakin mahalnya cost energi sekarang, akan memaksa kita berpikir untuk mengembangkan energi baru terbarukan baik secara off-grid maupun grid dengan PLN. Sebagai contoh, begitu banyak Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Riau di mana mereka masih ada spare daya 10-20%, apalagi jika sabut dan cangkang sawitnya masih tersisa untuk bahan bakar boilernya. Tentu sisa daya listriknya bisa disinkronisasikan dengan jaringan PLN terdekat. Belum lagi limbahnya dapat dijadikan biogas, juga bisa konversi ke listrik. Potensi lain yang bisa juga dikembangkan misalnya energi dari sampah. Energi hijau harus menjadi perhatian semua pihak. Dikti atau Perguruan Tinggi hendaknya men-support dana penelitian dan pengabdian untuk akademisi, dan pemerintah daerah juga bisa memprioritaskan pembangunan energi hijau untuk kebutuhan masyarakat dan alasan penyelamatan lingkungan hidup. Sampah organik pasar rakyat dibuatkan digester bawah tanah dan banyak lagi peluang dan keuntungan dari kegiatan pemanfaatan energi hijau. Aktifkan Litbang Pemda dan libatkan akademisi dan sinkronkan dengan Satker terkait, biar tidak hanya berhenti sampai wacana saja. Pemimpin daerah harus jeli dan dibantu orang teknis agar justifikasi penganggaran kegiatannya dapat diterima legislator.

Tampaknya kita memang butuh pemikiran-pemikiran teknikal seperti ini untuk mendorong kebijakan alternatif yang berbasis kepada sain dan teknologi.

Khusus untuk pembangkit EBT di pelosok terpencil mohon diperhatikan perawatan mayornya, karena tidak semua bisa dicover masyarakat. Buat kegiatan swakelola dengan melibatkan tenaga ahli agar persoalan kerusakan bisa langsung ditangani. Karena tidak mungkin jika pembangkit rusak perbaikannya menunggu usulan kegiatan tahun berikutnya, karena kebutuhan energi tidak mungkin menunggu penganggaran tahun berikutnya.

Apakah ini kendala yang sering terjadi di lapangan?

Ya. Karena dinas tidak menguasai teknis tentu melibatkan pihak ketiga dan sesuai aturan di Republik ini, kita tidak bisa buat anggaran kecuali APBDP atau kegiatan tahun berikutnya. Kalau ada penggantian alat, apa salahnya barang/komponennya saja ditenderkan? Soal kuantitas yang dibutuhkan tentu bisa dari usulan kegiatan konsultan. Sebab penggantian itu bisa diprediksi. Ilmu predictive dan preventif maintenance ada, bukan ilmu corrective saja harusnya.

Boleh tau apa buku favorit Abang?

Buku Petunjuk Penggunaan Alat alias Manual Book. Hahaha.

Hm. Sudah kuduga kembali. Serius tak ada buku lain?

Itu yang paling saya ingat.

Bagaimana cara makan durian yang paling enak menurut Abang?

Makan sebiji pakai pulut. Sisanya durian tok.

Pertanyaan terakhir, apa quote favorit?

Rencanakan sebelum dikerjakan. Kerjakan yang sudah direncanakan. Lakukan evaluasi berkelanjutan.

Sekian.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai