kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Wawancara Bersama David Hendra

Hari ini, Minggu, 6 Oktober 2019, saya, Puan Seruni, berencana melakukan wawancara khusus dengan David Hendra Nasution, Kasi Promosi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Kampar. Melalui founder Ihwal.co, Iben Nuriska, saya diarahkan menuju lokasi pertemuan, yakni Tepian Dam Stanum, di dalam area Obyek Wisata Stanum Bangkinang.

Saat memasuki gerbang Stanum di Jalan Jenderal Sudirman Bangkinang, boleh dikatakan, saya tak menemukan perubahan sama sekali. Masih seperti jaman saya SMA, saat ada praktik berenang. Rentang waktu dua dekade yang seharusnya membuat Stanum lebih potensial sebagai obyek wisata dengan banyak wahana.

Stanum kini tetap hanya dikenal dengan kolam renangnya dan itu pun mulai ditinggalkan sejak adanya obyek wisata air baru, seperti Sungai Hijau. Ia tak lagi dikenal dengan bukit-bukit, pemandangan alam, dan sumber air yang legendaris itu.

Dari parkiran, Iben Nuriska, yang berada di tepian Dam melambaikan tangan pada saya (sebetulnya tanpa melakukan hal itu pun dari jauh badannya sudah sangat jelas kelihatan). Saya bergegas melangkah, menemuinya dan beberapa orang dari Kampar Promotion Community yang sedang sibuk bekerja di sana. Ada UQ Tuah Mawlana Rumi, selama ini hanya mengenal beliau sebagai pecinta sastra di Facebook. Kemudian ada David Hendra Nasution, beliau ini adik kelas saat SMP dan SMA. Kemudian ada Nolly Putra satu almamater dengan saya di ISI Padang Panjang dan juga rekan lainnya.

Setelah ngobrol mengenai kegiatan mereka hari itu di tepian Dam Stanum, Bang Iben, demikian saya memanggil pemilik ihwal.co tersebut, kemudian mengarahkan saya untuk mewawancarai David Hendra Nasution, yang saat itu terlihat begitu sibuk mengangkat mesin penyedot air untuk membersihkan tembok dan turap di sekitar Dam.

Baca juga : Wawancara Bersama Bang Erick

Saat jeda, kesempatan wawancara pun saya (Puan) lakukan dengan Kasi Promosi di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kampar tersebut (David).

Puan :
David, kegiatan pembenahan atau peremajaan pada Stanum ini, kalau boleh tahu, merupakan bagian dari kegiatan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kah atau ada penggagas lainnya?

David :
Kegiatan ini dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan melalui arahan langsung dari Kepala Dinas, Pak Zulia Darma, SP, sebagai upaya kami menghubungkan antara komunitas-komunitas kreatif yang ada di Kabupaten Kampar dengan pihak Perusahaan Daerah Kampar Aneka Karya. Tentunya diharapkan dengan adanya modifikasi, inovasi dan berbagai kreativitas dari komunitas-komunitas tersebut mampu mempromosikan dan membuat Stanum tampil beda. Selain juga membantu mempromosikan keberadaan Stanum yang lebih baik. Dengan keahlian anggota komunitas, ada pelukis, fotografer, pembuat video, wartawan dan pekerja seni lainnya, dengan keahlian dan disiplin ilmu berbeda, mereka membenahi tempat-tempat yang diabaikan dan tidak menarik di Stanum ini. Dengan demikian ada hal lain yang membuat orang mau datang ke Stanum, yang tujuannya tidak hanya ke kolam renang. Kita tahu selama ini Stanum identik hanya dengan kolam renang Indopura, padahal Stanum juga memiliki bukit-bukit dengan lereng yang landai yang menarik untuk spot-spot fotografi, begitu juga dengan Dam yang menjadi ciri khas utama Stanum ini.

Puan :
Sejauh ini sudah berapa banyak komunitas yang dilibatkan?

David :
Semua komunitas kreatif di Kabupaten Kampar yang mau membantu kita, kita libatkan. Ada komunitas fotografi, komunitas videografi, komunitas pelukis, dan ada teman-teman yang tergabung dalam komunitas IT yang berkolaborasi sehingga tampilan Stanum ini kan lebih Instagramable. Kita ambil leader-leadernya dulu sebagai pegiat. Mulai Senin depan ada beberapa orang fotografer yang akan mengeksplorasi spot-spot alami yang ada di Stanum sebagai objek fotografi mereka, dan kemudian diposting di beberapa media sosial. Dengan harapan mampu mengundang minat masyarakat yang melihat untuk datang ke Stanum. Stanum saat ini tidak dikenal.

Puan :
Bagaimana antusiasme dari komunitas-komunitas tersebut?

David :
Wah, mereka sangat-sangat antusias. Ketika kami panggil dan ajak diskusi bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan mereka merasa sangat dihargai keberadaannya. Mereka seniman-seniman yang butuh ruang membuat karya. Dengan melibatkan mereka, berarti ada ruang atau tempat mereka berkreasi dan siapapun bisa mengapresiasi karya mereka tersebut, melalui tempat-tempat yang menjadi objek fotografi. Apalagi pengunjung wisata suka melakukan swafoto untuk dipamerkan di media sosial.

Puan :
Dari berbagai upaya promosi di Facebook dan Instagram, saya melihat David termasuk pejabat yang aktif menelusuri tempat-tempat yang memiliki potensi tersembunyi sebagai obyek wisata di Kabupaten Kampar. Sejauh ini sudah berapa banyak daerah yang ditargetkan untuk dikembangkan potensi wisatanya?

David :
Saya tidak menghitung berapa banyak target daerah wisata yang akan dikembangkan. Semuanya berjalan seiring upaya kita berkoordinasi dengan kepala desa dan pihak-pihak desa lainnya saat berkunjung. Hal itu kita lakukan terus menerus, sehingga potensi di desa tersebut bisa berkembang dengan baik. Memang saat ini fokus baru di Stanum. Tapi konsep-konsep ini akan diterapkan ke desa-desa dibantu teman-teman Komunitas. Jadi komunitas-komunitas ini akan bekerja sama dengan desa-desa. Kita tahu Kampar memiliki banyak desa yang sumber daya alamnya bagus dan masih asli. Fungsi komunitas di sini adalah sebagai relawan atau konsultan agar upaya pengembangan potensi wisata desa berikut kreativitas warganya tidak buntu. Misalnya, kreativitas fotografi itu membutuhkan skill, maka komunitas fotografi mengadakan workshop atau pelatihan bagi warga desa yang berminat. Mereka dibayar dan juga menyediakan fasilitas yang bisa disewakan. Komunitas, di sisi lain, jadinya punya peluang usaha. Saling menguntungkan tentunya bagi kedua belah pihak.

Puan :
Mengenai upaya pembenahan dan peremajaan Stanum ini, berapa lama tempo waktunya?

David :
Kebetulan saya sedang Diklat PIM IV saat ini dan harus menghasilkan sebuah proyek perubahan. Kalau di kuliah itu seperti penyusunan skripsi. Berkaitan dengan itu, ada yang harus diaplikasikan dalam proyek perubahan ini. Nah, proyek perubahan yang saya buat dengan konsep aplikasi kegiatan ini sudah berjalan selama dua bulan lamanya. Pada tanggal 23 Oktober besok merupakan seminar akhirnya, di mana saya akan mempresentasikan hasil dari aplikasi komunitas-komunitas yang telah dilakukan selama ini. Dampak dari kerja sama komunitas dengan PD Kampar Aneka Karya akan kita ambil datanya. Bagaimana perbandingan jumlah pengunjung sebelum dan sesudah ada komunitas. Data akan menjadi tolak ukur apakah komunitas ini bermanfaat tidak bagi Stanum? Dan saya yakin komunitas sangat memberikan manfaat untuk melanjutkan pengembangan kawasan wisata Stanum selanjutnya.

Puan :
Ini sengaja memilih tepian Dam atau bendungan air di Stanum, alasannya apa?

David :
Saya terinspirasi kutipan terjemahan Al-Quran. Bahwa surga itu di bawahnya mengalir sungai-sungai. Stanum adalah surga bagi orang Bangkinang sejak jaman dulu. Mendatangkan banyak pengunjung setiap tahun. Sejak sumber air, berikut aliran sungai atau anak air di Stanum terlantar, pesona Stanum pun tidak ada lagi. Saya menyayangkan hal itu. Gambaran surga paling sederhana itu, ya, di sini. Apa salahnya kita mengupayakan surga tersembunyi yang diabaikan ini bisa terlihat lagi dan bermanfaat lagi?

Puan :
Wilayah Dam ini rencananya akan dibuat apa?

David :
Dinding Dam dan turap itu akan dicat warna-warni dan lukisan tiga dimensi. Kemudian ada ruang lain untuk lukisan, yaitu bagian luar dinding toilet. Sehingga kesan jorok selama ini tidak ada lagi, dan juga seluruh tembok Stanum timbal balik akan dilukis, sehingga menarik perhatian pengunjung. Saya membayangkan ada banyak ruang yang Instagramable bagi pengunjung yang memilih berbagai latar lukisan untuk berswafoto bersama keluarga mereka.
Selain itu ada bentukan pulau-pulau kecil di aliran sungai dekat Dam yang akan kita bersihkan, tempatkan kursi dan dekorasi yang menarik minat pengunjung juga. Selain itu dalam upaya memberdayakan komunitas, kantin komunitas juga dibuat di sini. Konsepnya sederhana saja. Menjual barang-barang yang memang dibutuhkan pengunjung di tempat wisata. Sehingga mampu menghasilkan keuntungan yang mendukung kehidupan komunitas. Selain itu komunitas juga menyediakan pusat informasi, kemudian usaha travel dan paket-paket wisata bagi pengunjung yang ingin mengeksplorasi obyek wisata lainnya di Kabupaten Kampar. Jangan lupa, kita juga ada partisipasi dari Nolly Putra M.Sn, dari komunitas Master Film. Beliau ini dosen perfilman di Universitas Muhammadiyah Riau dan Universitas Islam Riau. Beliau menggagas pembuatan paket fotografi dan juga pembuatan video bagi pengunjung. Ini bisa dikembangkan lagi menjadi paket prewedding tentunya. Baik foto dan video diedit dan diselesaikan di hari yang sama. Saya pikir ini gagasan yang sangat menarik, dan pertama kali bagi obyek wisata Stanum. Pengunjung bisa beraksi layaknya model, bintang iklan atau pemain film pendek dengan tema sesuai pilihan pengunjung atau arahan pembuat videonya.

Puan :
Wah, sebuah upaya dengan gagasan yang luar biasa. Terima kasih David, untuk waktu dan informasi yang diberikan. Semoga apa yang telah diupayakan sejauh ini, hasilnya sesuai dengan yang diharapkan.

David :
Terima kasih juga, sudah menjenguk kami di sini walau belum ada apa-apanya, mohon maaf atas segala keterbatasan kami menjamu. Insya Allah akhir Oktober, kami akan launching. Berharap ada perhatian serius selanjutnya dari pimpinan Pemerintah Daerah.

Baca juga : Wawancara Bersama Uchien

Wawancara kami pun selesai. Saya pamit pulang. David, Bang Iben, Bang UQ, Nolly dan beberapa rekan mereka kembali bekerja. Bukan pekerjaan biasa saya kira. Sebab mereka sedang mewakili satu generasi yang mewarisi petuah orang tua kita dulu, yakni membangkit batang terendam. Semua orang mungkin bisa belajar dan mengaplikasikan satu konsep yang sistematis dan profesional. Namun tak semua orang akan mampu bekerja dengan menggunakan hati, tak semua orang akan mampu bekerja dengan menggunakan sepenuh-penuhnya hati. Tanpa harus mencaci masa lalu. Tanpa harus menyalahkan situasi, apalagi pribadi.

Saya melihat dari jauh rombongan alumni yang mengenakan seragam berwarna hijau terang tampak berkumpul di Lereng Bukit Stanum. Bersamaan pula saya melihat masa-masa saya kecil dulu. Mengunjungi Stanum bukan sekedar berwisata, tapi juga menunaikan kaul, hajat atau nazar. Saat bisa naik kelas, atau ulang tahun, akan ada perayaan kecil bersama orangtua dan saudara. Membawa tikar, rantang berisi makanan spesial dan baju ganti. Duduk di lereng-lereng bukit, menikmati pemandangan jajaran bukit barisan dan selanjutnya mandi-mandi.

Semoga saja kejayaan Stanum bisa kembali. Saya percaya akan melihatnya.***

Narasumber : David Hendra
Reporter/Author : Puan Seruni
Fotografer : Do Res & Asmelus
Editor : Herman Attaqi

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai